MIU Login

Prof. Yunita Nita: “Kurikulum PSPPA UIN Malang Masa Depan Harus Mengkombinasikan Keunggulan Halal dan Ketajaman Klinis”

BATU – Dunia kefarmasian terus berkembang dinamis, menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar mencetak lulusan yang menguasai teori, tetapi juga memiliki karakter pembeda di pasar kerja. Hal inilah yang mendasari Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar agenda krusial bertajuk “Review Pemutakhiran Kurikulum PSPPA” pada Rabu, 29 April 2026.

Acara yang berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 3 Gedung Ibnu Sina, Kampus III UIN Malang ini, menghadirkan narasumber ahli, Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm., yang juga merupakan Ketua Program Studi PSPPA Universitas Airlangga (UNAIR). Dalam pandangannya, pemutakhiran kurikulum bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan strategi untuk menjawab tantangan industri kesehatan yang kian kompleks.

Integrasi Nilai Keislaman dan Industri Halal

Sebagai universitas yang mengusung visi integrasi sains dan Islam, Prof. Yunita menekankan bahwa aspek “Halal” harus menjadi jiwa dari kurikulum PSPPA UIN Malang. Beliau mendorong agar keunggulan produk halal dikoneksikan langsung dengan semangat entrepreneurship.

“Aspek keunggulan Halal akan menjadi kurikulum unik dalam universitas berbasis Islam. Halal bisa dikoneksikan dengan entrepreneurship dan produk-produk halal,” ujar Prof. Yunita di hadapan para dosen dan tenaga kependidikan. Beliau juga memberikan ide konkret mengenai perancangan apotek yang islami, mulai dari penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) hingga tata kelola produk halal dan non-halal yang tegas.

Lebih lanjut, Prof. Yunita menyarankan agar mahasiswa dibekali kemampuan untuk membuat proyek rencana bisnis (business plan) yang berfokus pada produk halal. “Intinya, ilmunya sudah didapat di jenjang S1, di tahap Profesi inilah tinggal praktik nyatanya,” tambahnya.

Memperkuat Ketajaman Klinis dan Komunikasi

Selain aspek halal, diskusi dalam review kurikulum ini menyoroti pentingnya penguatan farmasi klinis. Pak Dhimas, preseptor dari RS Karsa, memberikan masukan penting mengenai perlunya pemaparan kasus klinis yang lebih kompleks di kampus agar mahasiswa tidak “kaget” saat terjun ke rumah sakit.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Yunita mengusulkan pendekatan terintegrasi yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Beliau juga menyarankan penggunaan metode Case-Based Learning (CBL) yang lebih intensif untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Apoteker Nasional (UKOMNAS).

Masukan lain datang dari praktisi puskesmas dan industri. Bu Arum dari Puskesmas Dinoyo menyarankan adanya muatan lokal terkait edukasi kesehatan bagi jamaah haji, seperti cara penyimpanan insulin selama perjalanan. Sementara itu, Pak Taufik dari PBF Enseval dan Bu Elok dari IAI Kota Malang menyoroti aspek soft skill, terutama kepercayaan diri dalam berkomunikasi dengan pasien maupun pimpinan perusahaan.

Menjawab Tantangan Era Digital

Kurikulum baru ini juga diproyeksikan untuk menyentuh aspek teknologi masa kini. Pak Bhakti dari IAI Kabupaten Malang memberikan saran agar kurikulum mulai melirik pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Marketplace dalam manajemen kefarmasian. Hal ini penting agar lulusan apoteker UIN Malang tidak gagap teknologi dan mampu bersaing di ekosistem digital.

Prof. Yunita menyimpulkan bahwa seluruh masukan dari preseptor dan alumni sangat berharga untuk mematangkan draf kurikulum yang telah disusun. Beliau menekankan bahwa setiap perubahan harus tetap disesuaikan dengan level kompetensi jenjang profesi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait